Jumat, 21 Februari 2014

RPP Integral Kurikulum 2013

RENCANA PRLAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan           :    *******************
Kelas/ Semester               :    XI/ 2
Mata Pelajaran                 :    Matematika
Materi Pokok                   :    Integral
Pertemuan ke-                  :    103 dari 108 pertemuan
Alokasi Waktu                 :    2 x 45 menit

A.    KOMPETENSI INTI
1.
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     KOMPETENSI DASAR
2.1    Menunjukkan sikap senang, motivasi internal, bekerjasama, dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata.
2.2    Memiliki sikap tanggung jawab dan responsif terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
3.28 Mendeskripsikan konsep integral tak tentu suatu fungsi sebagai kebalikan dari turunan fungsi.

C.    INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
Sikap
1.      Terlibat aktif dalam pembelajaran integral
2.      Bekerjasama dengan kegiatan kelompok dengan baik
3.      Responsif terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif dengan baik

Pengetahuan
1.      Mengidentifikasi dan menentukan pola turunan suatu fungsi
2.      Menentukan kebalikan dari turunan suatu fungsi
3.      Menemukan konsep integral tak tentu suatu fungsi


Keterampilan
1.      Menyajikan hasil temuan konsep integral tak tentu suatu fungsi serta menerapkannya dalam pemecahan masalah yang sederhana

D.    TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan kegiatan diskusi dan kelompok dalam pembelajaran integral diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran, kritik, serta dapat
1.      Mengidentifikasi dan menentukan pola turunan suatu fungsi
2.      Menentukan kebalikan dari turunan suatu fungsi
3.      Menemukan konsep integral tak tentu suatu fungsi

E.     MATERI AJAR

F.     PENDEKATAN/ MODEL/ METODE PEMBELAJARN
-          Pendekatan pembelajaran: pendekatan saintifik (scientific)
-          Model pembelajaran: Pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning)
-          Metode pembelajaran: Tanya jawab dan diskusi.

G.    MEDIA/ ALAT/ SUMBER PEMBELAJARAN
1.      Media              :    LKS, Slide Show
2.      Alat/ Bahan     :    Proyektor, Laptop, Papan tulis, Spidol, Penghapus.
3.      Buku Sumber  :   
-          Matematika Aplikasi Untuk SMA dan MA Kelas XII Program Studi Ilmu Alam. Penyusun: Pesta E. S. dan Cecep Anwar H. F. S.
-          Matematika SMA Kelas XII . Penyusun: Herynugroho dkk.
-          Matematika Bilingual Untuk SMA/ MA Kelas XII IPA Semester 1 & 2. Penyusun: suwah Sembiring dkk.


H.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan/ Pendekatan Saintifik
Syntak Model Pembelajaran
Uraian Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan

Orientasi:
1. Guru mengecek kehadiran siswa dengan menyebutkan satu persatu nama-nama siswa
15 menit

2. Guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin do’a sebelum belajar dan setelahnya guru bersama-sama dengan siswa membacakan do’a dipandu oleh siswa yang telah ditunjuk

Fase 1:
Orientasi peserta didik kepada
Masalah
Motivasi:
3. Sebagai pembuka pembelajaran, guru memberikan gambaran tentang pentingnya mempelajari konsep   integral dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Guru menyampaikan tujuan mempelajari konsep integral

Apersepsi:
5. Guru memberikan contoh kasus yang berhubungan dengan diferensial untuk memperoleh definisi integral

Inti
Mengamati

6. Guru bertanya kepada siswa bagaimana mengaitkan konsep diferensial dengan konsep integral, serta menampilkan permasalahan-permasalahannya dalam slide show.
60 menit

Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik
7. Guru meminta siswa mengamati dan memahami masalah secara individu dan mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.
Menanya
8. Bila ada siswa mengalami masalah, guru melakukan tanya jawab dan mempersilahkan siswa   lain untuk memberikan tanggapan.

9. Selanjutnya guru membuka cakrawala penggunaan konsep diferensial untuk mendapatkan definisi konsep integral.

10. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 3 orang.

11. Guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang berisikan langkah-langkah untuk memperoleh definisi konsep integral.
Menalar
Fase 3:
Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
12. Guru meminta siswa berkolaborasi dalam kelompoknya untuk menyelesaikan masalah.

13. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya.

14. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok untuk bertanya hal-hal yang kurang dipahami.
Mencoba
Fase 4:
Mengembangkan da menyajikan hasi karya
15. Guru meminta siswa menyiapkan laporan hasil diskusi kelompok secara rapi, rinci, dan sistematis.

16. Guru berkeliling mencermati siswa bekerja menyusun laporan hasil diskusi, dan member bantuan, bila diperlukan.
Jejaring
17. Guru meminta siswa menentukan perwakilan kelompok untuk mempresentasikan laporannya di depan kelas.

18. Guru memilih satu kelompok (tidak harus yang terbaik) untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.

Fase 5:
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
19. Guru memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain untuk memberikan tanggapan dan penyempurnaan terhadap hasil diskusi.

20. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi kelompok

21. Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai integral sebagai kebalikan dari turunan suatu fungsi.

22. Guru memberikan 2 soal yang   berkaitan dengan konsep integral. Dengan tanya jawab siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat.

Penutup

23. Siswa diminta menyimpulkan tentang definisi integral.
15 menit

24. Dengan bantuan slide show guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai konsep integral.

25. Guru memberikan tes tulis yang berupa soal dan dikerjakan di rumah.

26. Guru memberikan angket penilaian kepada siswa.

27. Guru memberikan gambaran materi pertemuan selanjutnya dan meminta siswa untuk membaca serta mempelajarinya.

28. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar.

I.       PENILAIAN PEMBELAJARAN
Teknik penilaian    :    Penilaian diri, pengamatan, tes tulis
Prosedur penilaian  :
No
Aspek yang dinilai
Teknik
Waktu Penilaian
1.
Sikap
1.      Terlibat aktif dalam pembelajaran integral
2.      Bekerjasama dengan kegiatan kelompok dengan baik
3.      Responsif terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif dengan baik

Penilaian diri
Penyelesaian proses pembelajaran
2.
Pengetahuan
1.      Mengidentifikasi dan menentukan pola turunan suatu fungsi
2.      Menentukan kebalikan dari turunan suatu fungsi
3.      Menemukan konsep integral tak tentu suatu fungsi
Tes tulis
Penyelesaian tugas individu/ kelompok
3.
Keterampilan
1.      Menyajikan hasil temuan konsep integral tak tentu suatu fungsi serta menerapkannya dalam pemecahan masalah yang sederhana
Pengamatan
Saat diskusi dan penyelesaian tugas individu/ kelompok



Instrumen Penilaian Pembelajaran
Tes tulis
Penyekoran  diberikan tidak hanya untuk  jawaban  akhir, tetapi  juga  proses  pemecahan  masalah yang  meliputi  pemahaman,  komunikasi  matematis (ketepatan  penggunaan  simbol  dan  istilah),  penalaran  (logis),  serta  ketepatan  strategi memecahkan masalah.




Mengetahui,
Kepala Sekolah


Guru Mata Pelajaran




(.......................................)
NIP. ...............................





(....................................)
NIP. ...........................

Selasa, 23 April 2013

SAATNYA PERUBAHAN GENERASI MUDA !!!


L
 ima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

            “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

-- Digubah dari tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI) --

Rabu, 23 Januari 2013

AKU MASIH SANGAT HAFAL NYANYIAN ITU


Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama sejak kita disekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
ketika anak-anak disuruh menyanyi di depan kelas satu persatu

Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama-sama
Sudah lama sekali
Pergaulan tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingan sendiri
Atau tersihir pesona dunia

Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu saying
Hari ini ingin sekali aku menyanyiaknnya bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusak abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu di puja-puja bangsa

Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata 

Aku merindukan rasa haru dan iba
Ditengah kobaran kebencian dan dendam serta maraknya rasa tega
Hingga kini…
Ada saja yang mengubah lirik lagu kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya  dengan nada sendu

Indonesia air mata kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Slalu di hina-hina bangsa

Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung berrebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya 

Sayang…
Dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa bernyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu
(GusMus)

NEGERI HAHA - HIHI

Bukan karena banyaknya group Lawak
Maka negeriku selalu kocak
Justru group-group lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
Negeriku lucu dan para pemimpin-pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan yang memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan
Hahaha…

Penegak keadilan jalannya miring
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil Rakyat baunya pesing
Hihihi…

Kalian jual janji-janji untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah-petitih!!!
Haha..

Anjing menggonggong kafilah berlalu
Sambil menggonggong kalian terus berlalu
Hahaha…

Ada udang di balik batu
Udang kepalanya batu
Hahaha…

Sekali dayung dua pulau terlampaui
Sekali untung dua pulau terbeli
Hahaha…

Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Kalian mati meninggalkan utang
Hahaha…

Hujan emas di negeri orang
Hujan batu di negeri sendiri
Lebih baik, Yuk!!! hujan-hujanan caci maki



(GusMus)